Geografi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang membahas tentang lokasi, termasuk persamaan dan perbedaan keruangan atas fenomena fisik, hingga manusia di atas permukaan bumi.
Pada umumnya, objek studi geografi meliputi segala fenomena yang terjadi di bumi. Jadi ilmu geografi meliputi studi tentang permukaan bumi, flora dan fauna, iklim, hingga kependudukan.
Selain itu, ilmu Geografi juga mempelajari tentang hubungan manusia dengan lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Secara umum, aspek geografi dibedakan menjadi dua yakni aspek fisik dan aspek sosial. Aspek fisik lebih membahas mengenai makhluk hidup, lingkungan dan wilayah. Sementara aspek sosial meliputi fenomena geosfer yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
Ada beberapa konsep pembelajaran dalam Ilmu geografi. Apa saja konsep konsep geografis?
Berikut kami jabarkan penjelasan tentang 10 konsep geografi lengkap dengan contoh dan penjelasannya.
1. Lokasi
Lokasi atau letak ialah suatu tempat atau posisi daerah yang memiliki keterkaitan suatu objek di muka bumi. Konsep lokasi terbagi menjadi 2, yaitu lokasi absolut dan lokasi relatif.
Lokasi Absolut
Lokasi absolut ialah letak suatu daerah berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Lokasi absolut bersifat statis dan tidak berubah karena berpedoman pada garis astronomi bumi.
Perbedaan lokasi berdasarkan garis astronomis ini menyebabkan perbedaan iklim (garis lintang) dan perbedaan waktu (garis bujur).
Contoh: Indonesia terletak antara 6°LU-11°LS, dan 95°BT-141°BT.
Lokasi Relatif
Lokasi relatif ialah letak atau posisi yang ditentukan berdasarkan daerah yang berada di sekitarnya. Lokasi relatif dapat berganti-ganti sesuai dengan objek yang ada di sekitarnya.
Keberadaan lokasi relatif lebih banyak kajiannya dalam geografi dan biasa dikenal dengan letak geografis.
Contoh: Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan Australia serta diapit oleh samudera Hindia dan Pasifik.
2. Jarak
Jarak merupakan salah satu konsep dasar geografi. Konsep jarak dibagi mennadi 2, yaitu jarak absolut/mutlak dan jarak relatif.
Jarak Absolut / mutlak
Jarak absolut atau mutlak adalah jarak geometrik yang dinyatakan dalam satuan panjang meter (m) atau kilometer (km). Konsep jarak absolut bersifat tetap dan tidak bisa diubah-ubah.
Contoh: jarak Surabaya ke Jakarta adalah 790 kilometer.
Jarak Relatif
Jarak relatif adalah jarak yang diukur dengan satuan waktu, misalnya hari, jam, menit, detik. Ruang antara 2 titik diukur berdasarkan waktu tempuhnya dan bisa berbeda-beda tergantung kondisi tertentu.
Contoh: perjalanan dari Surabaya ke Jakarta hanya menghabiskan waktu sekitar 1 jam jika menggunakan pesawat. Namun jika menggunakan kereta api, bisa menghabiskan 10 jam sampai 15 jam.
3. Keterjangkauan
Konsep Keterjangkauan membahas tentang kemudahan akses jarak tempuh menuju suatu titik. Dalam kata lain, keterjangkauan adalah jarak yang mampu dicapai secara maksimal dari satu wilayah ke wilayah lain.
Konsep keterjangkauan juga meliputi sarana dan prasarana penunjang yang ada.
Contoh: Pada jaman dulu perjalanan dari pulau jawa ke kalimantan harus menggunakan kapal. Namun saat ini, perjalanan antar pulau tersebut bisa dilakukan lebih cepat menggunakan pesawat.
4. Pola (pattern)
Pola adalah bentuk, struktur, dan persebaran peristiwa atau fenomena di permukaan bumi baik yang disebabkan gejala alam maupun gejala sosial.
Pola juga dapat didefinisikan sebagai tatanan geometris yang beraturan sebagai bentuk interaksi manusia dengan lingkungannya.
Contoh: pembangunan perumahan di sepanjang aliran sungai atau jalan raya.
5. Geomorfologi
Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi. Konsep ini meliputi struktur luar yang menyusun bentuk morfologi pada permukaan bumi misalnya pantai, dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, lembah, dsb.
Contoh: Bandung terletak di dataran tinggi sedangkan Surabaya terletak di dataran rendah
6. Aglomerasi
Aglomerasi adalah proses pengelompokan suatu gejala yang terkait dengan aktivitas manusia menjadi struktur.
Contoh: pasar malam khusus pada hari rabu dan pasar minggu khusus pada hari minggu siang.
7. Nilai Kegunaan
Nilai kegunaan adalah manfaat yang diberikan oleh suatu wilayah di permukaan bumi pada makhluk hidup. Nilai kegunaan tidak sama bagi semua orang, namun berpotensi menunjang perkembangan suatu wilayah.
Contoh: daerah pantai bisa sebagai tempat perikanan, sedangkan kawasan dataran tinggi untuk tanah perkebunan.
8. Interaksi/Interpendensi
Interaksi atau interpendensi merupakan fenomena hubungan yang saling mempengaruhi antara suatu gejala dengan gejala lainnya untuk saling memenuhi kebutuhannya.
Contoh: pedesaan menghasilkan beras yang didistribusikan ke perkotaan.
9. Diferensiasi Areal
Diferensiasi areal adalah proses yang berbeda antara tempat yang satu dengan yang lain. Konsep ini membandingkan antara 2 wilayah untuk mengamati perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah lain yang disebabkan karakteristik yang unik.
Contoh: perikanan di wilayah pantai dan perkebunan di wilayah pegunungan.
10. Keterkaitan Ruang
Keterkaitan Ruang adalah hubungan antara suatu proses dengan proses lainnya yang memiliki keterkaitan ruang atau wilayah, sehingga menyebabkan terjadinya peristiwa sebab-akibat antar wilayah.
Contoh: kebakaran hutan di Palanka Raya mengakibatkan polusi udara di Banjarmasin karena letaknya berdekatan.
Demikian pembahasan tentang konsepilmu geografi beserta contoh dan penjelasannya. Semoga bermanfaat.
Geografi adalah bidang ilmu yang mempelajari gejala alam dan fenomena geosfer di permukaan bumi.
Arti geografi menurut para ahli juga membahas hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan alam sekitarnya hingga interaksi antar makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ruang lingkup geografi bisa dibagi menjadi geografi fisik, geografi sosial, dan geografi regional. Beberapa langkah dan metode pembelajaran khusus dalam geografi disebut pendekatan geografis.
Pendekatan geografi adalah langkah dan metode untuk melakukan analisa terhadap berbagai gejala dan fenomena geosfer, termasuk interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Beberapa pendekatan geografi didasarkan pada prinsip geografi, yaitu prinsip distribusi, prinsip interelasi, prinsip deskripsi, dan prinsip korologi.
3 Pendekatan Geografi dan Contohnya
Pendekatan geografi terbagi menjadi 3 macam, yaitu pendekatan keruangan (spasial), pendekatan lingkungan (ekologi), dan pendekatan kompleks wilayah (regional). Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya berikut.
1. Pendekatan Keruangan (Spasial)
Pendekatan keruangan atau spacial analysis merupakan pendekatan yang mempelajari keragaman ruang muka bumi dengan cara menganalisa setiap aspek keruangannya.
Dalam pendekatan ini, peneliti akan mengkaji kesamaan dan perbedaan suatu fenomena geosfer melalui aspek keruangan. Aspek-aspek ruang (spasial geografi) yang dikaji meliputi faktor lokasi, kondisi alam, hingga kondisi sosial budaya masyarakat.
Selain itu, peneliti juga harus memperhatikan distribusi/persebaran, interelasi, hingga interaksinya.
Pendekatan ini diharapkan akan memberi manfaat bagi manusia terkait baik dalam aspek hidrologi, pedologi, dan klimatologi.
Contoh pendekatan keruangan (spasial)
Sebidang tanah harganya mahal karena tanahnya subur dan terletak di tempat yang strategis. Kita bisa menilai bahwa nilai tanah berdasarkan produktivitas pertanian dan nilai ruangnya yaitu lokasi strategis.
2. Pendekatan Lingkungan (Ekologi)
Pendekatan lingkungan dilakukan berdasarkan prinsip ilmu biologi, yaitu interaksi yang menonjol antara makhluk hidup dan lingkungannya. Pendekatan ini bertujuan untuk mengkaji fenomena geosfer dengan cara memperhatikan interaksi antara organisme dengan lingkungannya.
Aspek yang diperhatikan dalam pendekatan ini adalah interaksi komponen fisikal (alamiah) dan nonfisik (sosial).
Selain itu, pendekatan lingkungan juga berfokus pada perilaku organisme dan perubahan fenomena lingkungan yang terjadi secara alami tanpa keterkaitan.
Contoh pendekatan lingkungan (ekologi)
Musibah banjir di suatu daerah. Pada fenomena ini, kita bisa identifikasi melalui beberapa tahapan dalam pendekatan lingkungan untuk menghasilkan solusi suatu masalah.
Identifikasinya meliputi kondisi fisik, sikap, perilaku masyarakat, serta interaksinya. Pertama, identifikasi fisik dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik lingkungan yang mengakibatkan terjadinya banjir. Misalnya seperti kondisi bangunan, curah hujan, hingga jenis tanah di daerah tersebut.
Lalu identifikasi sikap dan perilaku masyarakat dilakukan untuk mengetahui aktivitas masyarakat dalam mengelola alam di lokasi tersebut. Misalnya pembuangan sampah, penggundulan hutan, alih fungsi lahan pertanian, hingga pola pemukiman di daerah tersebut.
Terakhir, analisa interaksi ekologi hubungan antara identifikasi fisik dan sikap dilakukan untuk menemukan solusi masalah.
3. Pendekatan Kompleks Wilayah (Regional)
Pendekatan kompleks wilayah membandingkan beberapa kawasan di permukaan bumi dengan memperhatikan aspek-aspek keruangan dan lingkungan secara komprehensif. Pada dasarnya, pendekatan ini merupakan gabungan antara pendekatan spasial dan ekologi.
Pendekatan ini memperhatikan perbedaan karakteristik atau diferensiasi areal pada beberapa wilayah di bumi. Hasil pendekatan studi wilayah tertuang menjadi peta dan dipelajari dalam ilmu kartografi.
Contoh pendekatan regional
Dalam membangun rumah, arsitek harus memperhatikan karakteristik wilayahnya. Misalkan untuk membangun rumah di daerah dekat perairan atau rawan banjir, maka dibutuhkan fondasi yang lebih tinggi untuk mengantisipasi terjadinya banjir atau pasang air laut.
Prinsip geografi adalah 4 prinsip yang mendasari analisis geografi pada fenomena-fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Sama seperti konsep geografi, prinsip geografi bermaksud untuk membantu kita dalam memeriksa dan memahami apa yang bergotong-royong terjadi di sekitar kita.
Pada dasarnya, geografi adalah ilmu yang mempelajari persebaran aktivitas di muka bumi secara spasial dan kekerabatan antara kegiatan-kegiatan yang ada, baik yang alami maupun yang disebabkan insan. Untuk menjawab pertanyaan diatas, geografi mempunyai 2 faktor Utama dan 10 desain analisis.
Aspek geografi secara lazim adalah aspek fisik dan aspek sosial. Kedua hal tersebut merupakan sisi yang berlawanan dari koin yang sama, sehingga harusnya tidak mampu dipisahkan.
Berbeda dengan aspek geografi yang merupakan lingkup keilmuan, konsep geografi ialah seperangkat tools-tools dan pertanyaan dasar. Konsep geografi bertujuan untuk mempermudah kita dalam memahami dan menjelaskan fenomena yang terjadi.
Nah, prinsip geografi sendiri cukup seperti dengan konsep geografi, bedanya yaitu prinsip geografi lebih basic dan luas cakupannya. Berikut ini yaitu pembagian terstruktur mengenai dan pola kasus dari 4 prinsip geografi yang harus dimengerti oleh semua geografer, baik yang mahir maupun yang masih menjadi pembelajar.
Daftar Isi
Prinsip Distribusi
Contoh penggunaan prinsip distribusi ialah ketika kita menjelaskan persebaran budaya di Indonesia
Prinsip distribusi, seperti namanya merupakan prinsip yang menjelaskan persebaran fenomena di permukaan bumi yang tidak terjadi secara merata. Pertanyaan utama dari prinsip distribusi adalah mengapa fenomena itu ada di lokasi a namun tidak ada di lokasi b? atau mengapa fenomena tersebut memiliki persebaran seperti itu.
Intinya, jika kita ingin membahas suatu fenomena dari sudut pandang spasial lokasinya, lebih spesifiknya lagi persebarannya, maka kita akan menggunakan prinsip distribusi.
Berikut ini yaitu beberapa keyword yang dapat kita pakai untuk menjelaskan sebuah fenomena menggunakan prinsip distribusi
Obyek tersebut cuma mampu didapatkan
Persebarannya hanya ada pada
Obyek tersebut terlihat di beberapa daerah
Jika kita menyaksikan atau memakai kata kata tersebut, sudah mampu dipastikan prinsip yang digunakan yakni prinsip distribusi.
Prinsip Interelasi
Banjir bandang yang disebabkan hujan dan longsor merupakan teladan penggunaan prinsip interelasi dalam menerangkan suatu fenomena alam
Prinsip interelasi membahas mengenai keterkaitan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya dalam sebuah ruang. Seperti suara hukum Tobler, semua obyek saling mensugesti, semakin bersahabat jaraknya, kian besar lengan berkuasa pengaruhnya. Oleh alasannya itu, prinsip interelasi kalau ingin dipakai secara penuh, harus mengamati aspek spasial juga.
Tujuan dari prinsip interelasi adalah untuk mengetahui korelasi sebab-akhir yang terbentuk antar satu fenomena dengan fenomena yang lain dalam suatu ruang. Prinsip ini sangat berkhasiat saat kita ingin melaksanakan evaluasi dampak dari sebuah fenomena atau analisa imbas dari suatu proyek pengembangan daerah.
Berikut ini yakni beberapa acuan dari penerapan prinsip interelasi pada fenomena geografi
Penduduk pesisir banyak yang menjadi nelayan alasannya adalah erat dengan laut
Suhu panas di belakang gunung alasannya adalah adanya angin fohn
Kondisi iklim suatu kawasan yang dipengaruhi oleh letak astronomisnya
Suhu yang sangat panas menjadikan penguapan, sehingga terjadi hujan
Terjadinya tsunami di sebuah wilayah karena sebelumnya terjadi gempa di tengah bahari.
Intinya, jika kita ingin membahas imbas sebuah fenomena kepada fenomena yang lain, gunakanlah prinsip interelasi dalam melakukan analisis geografi.
Berikut ini yaitu beberapa kata kunci yang dapat kita gunakan untuk menerangkan suatu fenomena memakai prinsip interelasi
Pembalakan liar menjadikan abrasi tanah berlebihan
Terjadi banjir di Jakarta sebab di Bogor Hujan
Hujan asam ini disebabkan oleh penggunaan kendaraan yang berlebihan
Dengan menggunakan kata-keyword diatas, kita dapat mengerti bahwa analisis geografi yang ada dijalankan berdasarkan prinsip interelasi.
Prinsip Deskripsi
Seperti namanya, prinsip deskripsi ialah prinsip geografi yang bertujuan untuk menjelaskan secara lengkap perihal suatu fenomena geografi. Umumnya, prinsip geografi lainnya menjelaskan suatu fenomena secara spasial, namun, prinsip deskripsi menjajal menjelaskan fenomena tersebut dari sudut pandang aspasial.
Tujuan prinsip deskripsi yakni untuk menawarkan citra lengkap perihal suatu fenomena geografis. Gambaran lengkap ini cuma mungkin didapatkan jika terdapat faktor spasial dan aspek aspasial, mirip data, angka, dan kronologis.
Oleh alasannya itu, analisis geografi yang memakai prinsip deskripsi biasanya banyak membahas mengenai proses, statistik, kronologi, dan juga citra perihal fenomena tersebut. Prinsip ini sangat baik dipakai selaku perhiasan dan penjelas dalam analisis geografi.
Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan prinsip deskripsi pada fenomena geografi.
Banjir mempengaruhi lebih dari 500 KK
Mayoritas migran terdiri dari kaum buruh dan pekerja kelas bawah
Mayoritas buruh menerima gaji dibawah 3,4 juta, atau UMR kawasan tersebut
Letusan gunung api menelan 10 korban jiwa dan sekitar 200 orang luka luka
Pengangguran di Indonesia meraih angka 5 juta penduduk
Perairan kita memiliki kedalaman hingga 2000 meter dibawah permukaan maritim
Siklus air berisikan beberapa proses, seperti penguapan, pengembunan, dan presipitasi
Indonesia mempunyai produk domestik bruto diatas 1 Trilyun US dollar pada tahun 2018
Intinya, jika kita membicarakan aspek-aspek bukan spasial (lokasi/persebaran) ataupun interelasi (korelasi antar fenomena) mempunyai arti kita membahas fenomena geografi tersebut dengan menggunakan prinsip deskripsi.
Berikut ini ialah beberapa keyword yang kerap digunakan ketika kita memakai prinsip deskripsi dalam mengevaluasi suatu fenomena
Korban jiwa dari gempa tersebut berjumlah 100 orang (kuantitatif)
Siklus airterdiri dari beberapa proses, mirip penguapan, pengembunan, dan presipitasi (proses)
Mayoritas migranterdiri dari kaum buruh dan kelas bawah (penjelasan lebih lanjut)
Dengan menggunakan kata-keyword diatas, kita bisa percaya bahwa analisis geografi tersebut dikerjakan berdasarkan prinsip deskripsi.
Prinsip Korologi
Penggunaan peta dibarengi dengan data penunjang merupakan acuan penerapan prinsip korologi. Peta diatas menjelaskan mengenai pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia
Jika ketiga prinsip diatas membahas perihal pendekatan spesifik untuk menyaksikan sebuah fenomena, maka prinsip korologi melihat sebuah fenomena dengan semua sudut pandang. Prinsip korologi pada dasarnya ialah adonan dari ketiga prinsip diatas, sehingga observasi geografisnya akan menghasilkan hasil yang lebih komprehensif.
Prinsip korologi timbul saat para ahli geografi merasa bahwa prinsip-prinsip yang sudah ada diatas tidak cukup untuk menggambarkan suatu fenomena. Ketika kita menggunakan salah satunya, niscaya ada yang kurang, entah itu dari sisi spasialnya maupun aspasialnya.
Oleh alasannya adalah itu, dibuatlah kompilasi dari ketiga faktor tersebut, distribusi, interelasi, dan deskripsi, prinsip ini pun dinamakan prinsip korologi. Hampir semua observasi geografi terbaru kini memakai prinsip korologi, pastinya dengan pemfokusan pada prinsip tertentu yang ingin diteliti lebih dalam.
Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan prinsip korologi dalam fenomena geografis sehari-hari
Hujan di Bogor menjadikan banjir di Jakarta. Banjir ini menyebabkan kerugian Rp100 milyar dan 10 orang luka-luka. Hal ini lumrah terjadi alasannya saat ini memang trend hujan, tercatat bahwa awan hujan berada di atas kota Bogor, Malang, Palembang, dan Surabaya. (Pada cuplikan ini, kita mampu menyaksikan prinsip interelasi di awal, disusul oleh deskripsi, dan pada kesudahannya diterangkan distribusi hujannya)
Indonesia akan menyebarkan 12 situs Kawasan Ekonomi Khusus, 5 di Sumatra, 2 di Jawa-Bali, 1 di Kalimantan, 2 di Sulawesi, dan 2 di Maluku-Papua. KEK ini terdiri dari KEK industri maupun KEK pariwisata. Diharapkan, dengan adanya kawasan ekonomi khusus ini, akan terbentuk pengaruh aktual mirip kemajuan ekonomi setempat dan peningkatan kemampuan eksport.
Intinya, prinsip korologi menggabungkan seluruh prinsip-prinsip yang ada untuk membuat suatu kajian geografis yang komprehensif dan akurat perihal suatu fenomena.
Apakah ada keyword khusus untuk penggunaan prinsip korologi? Tentu saja ada! Kata kuncinya adalah menggunakan semua kata kunci yang ada pada ketiga prinsip yang sudah kita diskusikan diatas, kan mereka juga bagian dari prinsip korologi.
Kesimpulan
Terdapat 4 prinsip dalam melaksanakan penelitian geografi yaitu, prinsip distribusi, interelasi, deskripsi, dan gabungan ketiganya adalah prinsip korologi. Keempat prinsip ini bermaksud untuk membantu kita menstrukturkan penelitian dan pembahasan kita, supaya kita dan pembaca kita mudah mengetahui fenomena yang diteliti.
Jika kita amati baik-baik, bantu-membantu semua fenomena geografi mampu kita jawab dengan 6 pertanyaan yang sering timbul pada kelas bahasa, utamanya pada bahan berita. Apakah kalian tahu apa pertanyaannya?
Ya! 6 pertanyaan tersebut adalah 5W+1H atau Why, What, Who, When, Where dan How yang dikemukakan oleh Rudyard Kipling. Keenam pertanyaan ini mempunyai kekerabatan yang sungguh kuat terhadap 4 prinsip geografi yang telah kita diskusikan diatas. Keduanya sama sama berupaya untuk memecahkan masalah dengan membaginya kedalam bagian-bagian yang gampang diketahui.
Aspek geografi terbagi menjadi dua, yaitu faktor fisik yang mencakup kegiatan dan objek alami, serta faktor sosial yang meluputi kegiatan dan objek manusia. Dalam melaksanakan kajian geografis perihal suatu fenomena, lazimnya kedua aspek ini digabungkan untuk mendapatkan gambaran yang baik mengenai urusan tersebut.
Ilmu geografi sendiri merupakan ilmu yang bermaksud untuk menerangkan aktivitas yang terjadi di wajah bumi secara spasial. Dalam menerangkan hal tersebut, ilmu geografi mempunyai cakupan keilmuan yang sungguh luas. Bahkan, geografi sering disebut sebagai ilmu segala ada sebab sering memakai dan menggabungkan teknik analisis dari aneka macam keilmuan lain.
Namun, dalam menjelaskan sebuah fenomena geografi, hal paling fundamental yang harus dikaji yaitu eksistensi faktor fisik dan sosial yang menghipnotis fenomena tersebut. Oleh alasannya itu, kedua faktor ini menjadi aspek dasar dalam analisis geografi.
Daftar Isi
Aspek Fisik Geografi
Aspek fisik geografi menitikberatkan pada kajian tentang fenomena-fenomena geosfer yang mensugesti hidup manusia. Pada umumnya, aspek fisik geografi memiliki masalah dengan fenomena-fenomena yang dipengaruhi oleh alam secara pribadi, bukan oleh manusia.
Pada dasarnya, faktor fisik geografi dapat dikategorikan secara luas kedalam tiga kategori yakni keilmuan yang membicarakan
Jika kita pecah lebih dalam, ketiga kategori luas tersebut mampu dikonsolidasikan menjadi beberapa lingkup kajian dan keilmuan yang terpisah. Berikut ini yaitu beberapa teladan lingkup kajian geografi yang tergolong kedalam faktor fisik geografi.
Flora dan Fauna
Aspek flora dan fauna membicarakan perihal biodiversitas suatu kawasan tertentu
Biogeografi ialah keilmuan geografi yang membahas mengenai persebaran hewan dan flora di paras bumi. Keilmuan ini termasuk kedalam aspek fisik geografi sebab berafiliasi dengan tanaman dan fauna serta bentang alamnya.
Contoh pribadi pengaplikasian keilmuan biogeografi ialah dikala para peneliti membuat klasifikasi kawasan biogeografi dunia yang menerangkan persebaran hewan dan tanaman secara global. Secara mikro, kita juga sering melakukan pendataan dan delineasi ekoregion, bioma, serta ekosistem yang ada di suatu negara, seperti Indonesia.
Cuaca dan Iklim
Cuaca yang iklim mempunyai pengaruh yang sungguh besar kepada kegiatan suatu kawasan. Contohnya yakni angin Fohn dan angin Muson
Keilmuan meteorology dan Klimatologi masuk kedalam faktor fisik geografi sebab mereka bekerjasama langsung dengan atmosfer bumi dan acara-acara yang terjadi pada lapisan tersebut.
Indonesia ialah negara maritim dengan salah satu garis pantai terpanjang di dunia
Geografi pesisir membicarakan perihal interaksi bahari dengan daratan, terutama di daerah pesisir serta apa dampaknya bagi masyarakat. Oseanografi membahas perihal laut dan apa yang terkandung di dalamnya, tergolong sumber daya alam baik hayati maupun non-hayati.
Contoh imbas kawasan pesisir dan lautan kepada kehidupan manusia yakni selaku sumber mata pencaharian bagi nelayan dan petani garam. Namun, laut juga dapat menjinjing bencana dalam bentuk tragedi mirip tsunami dan banjir rob.
Bentang Alam
Morfologi yang terjal dan berbukit bukit kurang cocok sebagai permukiman, tetapi cocok untuk rekreasi
Bentang alam meliputi seluruh morfologi yang ada di permukaan bumi beserta topografinya. Dalam geografi, terdapat 3 pandangan besar tentang interaksi antara bentang alam dengan acara manusia yakni possibilisme, determinisme, dan probabilisme.
Oleh alasannya itu, sudah jelas bahwa bentang alam memiliki relasi interelasi yang kuat dengan acara insan, sehingga harus diteliti dengan seksama. Ketika kita sudah mengetahui dengan tepat bentang alam apa saja yang ada, maka kita mampu dengan mudah melaksanakan perencanaan.
Contohnya adalah kawasan karst dengan bentang alam kapur seperti uuvala, dolina, dan gua karst pastinya kurang cocok untuk dijadikan tempat pemukiman intensif sebab kualitas dan kuantitas air permukaan yang kurang mencukupi.
Air
Air merupakan sumber daya alam yang sangat krusial bagi keberlangsungan kehidupan manusia
Air ialah salah satu unsur yang memungkinkan adanya kehidupan. Oleh sebab itu, air memiliki posisi yang sungguh krusial dalam memilih aktivitas insan apa saja yang mungkin dikerjakan di sebuah daerah dan kegiatan mana yang tidak memungkinkan.
Dalam geografi, kita juga mesti belajar mengenai siklus air dan proses-proses hidrologi yang ada pada siklus tersebut. Hal ini bermaksud biar kita dapat mengetahui kepada pengaruh yang disebabkan oleh air kepada aktivitas manusia dan kegiatan manusia terhadap siklus air.
Contoh pengaruh air terhadap kehidupan yakni di daerah timur tengah. Disana, kota-kota besar pasti terletak erat dengan tubuh air seperti sungai ataupun oasis. Hal ini terjadi alasannya adalah manusia membutuhkan air dalam jumlah besar untuk bertahan hidup.
Bahkan, negara kaya mirip Uni Emirate Arab dan Arab Saudi sudah mulai mempersiapkan membangun penyulingan air laut sebagai tambahan dari sumber-sumber alami untuk mengamankan suplai air mereka kedepannya.
Tanah dan Batuan
Daerah dengan sebaran batuan, tanah, dan mineral yang kaya tentu saja akan lebih gampang meningkat dibandingkan dengan kawasan yang miskin sumber daya
Tanah dan batuan, mirip namanya, mencakup tanah dan watu serta mineral yang terkandung dalam keduanya. Kedua hal ini mempunyai hubungan yang sungguh dekat dengan kegiatan insan, utamanya aktivitas ekonomi seperti pertanian dan pertambangan.
Aktivitas pertanian sungguh dipengaruhi oleh keadaan air, iklim, serta tanah yang ada di suatu kawasan. Jika tanahnya subur, maka tempat tersebut telah pasti akan dijadikan area pertanian intensif dengan jumlah masyarakatpendukung yang lumayan banyak. Namun, kalau tanahnya gersang, maka jumlah penduduknya pun akan sedikit dan tidak banyak acara yang dapat dikerjakan diatas tanah tersebut.
Aktivitas pertambangan juga sangat tergantung dengan kerikil jenis apa yang ada di kawasan tersebut. Karena bahan galian termasuk kedalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, maka saat watu dan mineralnya habis, para penambang mesti pindah.
Oleh alasannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa keadaan batuan serta mineral yang terkandung sangat mempengaruhi acara manusia yang ada di wilayah tersebut. Jika batuan dan mineralnya pantas untuk ditambang, maka akan tercipta boom town atau kota yang tiba-datang menjadi besar dipenuhi para penambang. Contohnya ialah California dan Kalgoorlie ketika ada gold rush atau tembagapura di Indonesia.
Contoh yang lain yakni tempat-kawasan yang riskan longsor dan pergerakan tanah yang lain. Daerah ini, meskipun memiliki sumber daya mineral yang banyak, cenderung disingkirkan oleh pengembang. Hal ini terjadi karena risiko bencana kawasan tersebut sangat tinggi, dimana alat-alat pertambangan yang mahal mampu rusak atau bahkan hancur dikala terjadi tragedi.
Aspek Sosial Geografi
Selain aspek fisik, terdapat pula faktor non fisik yakni aspek sosial dalam geografi. Jika faktor fisik membahas tentang fenomena-fenomena alam yang mensugesti acara insan, maka aspek sosial membahas mengenai fenomena sosial yang menghipnotis aktivitas manusia.
Fenomena sosial artinya fenomena yang berasal dan dipengaruhi oleh aktivitas manusia itu sendiri. Oleh karena itu, geografi sosial ialah aspek geografi yang sungguh mempesona karena kajiannya sangatlah kompleks. Banyak terdapat variabel-variabel yang mensugesti fenomena yang kita teliti.
Berikut ini adalah beberapa kajian dan keilmuan geografi yang masuk kedalam aspek sosial geografi.
Kebudayaan
Aspek kebudayaan sungguh kental di Indonesia alasannya keanekaragaman budaya kita yang sangat tinggi
Aspek kebudayaan tentu saja mempunyai dampak yang besar terhadap aktivitas insan di permukaan bumi. Budaya dapat mendorong atau menghambat suatu kegiatan untuk dijalankan. Dengan adanya globalisasi, peran budaya lokal sekarang mulai tergantikan oleh budaya-budaya global.
Melihat pentingnya budaya dalam mempengaruhi acara manusia di permukaan bumi, maka kajian perihal budaya sebuah wilayah sungguh penting untuk dijalankan dalam observasi geografis.
Contoh dari dampak kebudayaan kepada kegiatan manusia yaitu penggunaan lahan di tempat Kalimantan dan Papua yang masih banyak dikelola oleh tanah budbahasa. Keberadaan tanah budpekerti tersebut, tergolong hutan akhlak, mempersulit pengembang dan pemerintah yang ingin melaksanakan pengembangan proyek disana.
Contoh yang lain yakni budaya suku Bajo yang gemar melaut dan tinggal di rumah-rumah panggung diatas laut atau bahkan tinggal di kapal-kapal mereka sendiri. Hal ini mempengaruhi contoh kegiatan yang ada di pemukiman mereka serta acuan acara kawasan sekitarnya.
Mereka sungguh menggantungkan hidupnya pada maritim, sehingga pembangunan yang mempengaruhi bahari akan sungguh mensugesti mereka pula. Hal-hal mirip inilah yang harus dicermati oleh geografer ketika sedang melaksanakan observasi atau melaksanakan perencanaan sebuah daerah.
Geografi Politik
Indonesia memiliki letak geografis yang sangat menguntungkan dari sisi geopolitik
Hubungan antar negara tentu saja memiliki kaitan yang sangat kuat dengan aspek spasial negara-negara tersebut. Negara yang mempunyai kedekatan secara spasial cenderung akan memiliki kekerabatan yang lebih intens dengan tetangganya, entah itu korelasi konkret mirip Amerika Serikat dan Kanada, atau relasi negatif mirip Korea Utara dan Korea Selatan.
Lokasi sebuah negara juga dapat menawarkan keuntungan bagi negara tersebut. Contohnya adalah singapur yang mempunyai lokasi ditengah-tengah jalur jual beli Asia-Afrika-Eropa, atau Panama dan Mesir (suez) yang memiliki akses sehingga dapat mempersingkat rute perdagangan dunia.
Indonesia juga tidak kalah lho, kita terletak di antara dua benua dan dua samudera, sehingga lokasi kita sungguh strategis untuk pertahanan maupun untuk jual beli. Sejauh ini, Indonesia telah memutuskan beberapa alur maritim kepulauan Indonesia (ALKI) yang bertujuan untuk kepentingan jualan . Namun, dalam segi pertahanan, Indonesia menganut desain bebas aktif, sehingga tidak terafiliasi dengan negara manapun.
Sangat penting bagi geografer untuk mengamati hal-hal ini dalam penelitian geografisnya kepada suatu wilayah. Terkadang, bukan hal-hal fisik yang paling mensugesti teladan kegiatan di sebuah wilayah, namun justru faktor politiknya.
Aspek kependudukan sebuah kawasan tentu saja memiliki dampak yang besar kepada aktivitas yang ada pada wilayah tersebut. Wilayah dengan kepadatan penduduk yang lebih tinggi pastinya akan memiliki intensitas kegiatan yang lebih tinggi pula.
Selain menghipnotis intensitas aktivitas, demografi juga mempengaruhi kegiatan apa saja yang terjadi pada daerah tersebut. Daerah dengan penduduk yang muda cenderung menggemari aktivitas padat karya, sedangkan daerah dengan penduduk bau tanah dan non produktif condong menggemari aktivitas yang padat modal. Hal ini direpresentasikan oleh piramida penduduk yang berbeda-beda pula bagi tiap negara.
Namun, mirip semua hal di alam, kependudukan juga niscaya akan mencari titik ekuilibriumnya. Daerah yang mengalami overpopulasi pastinya akan mengalami penurunan jumlah penduduk, entah itu melalui akhir hayat alami atau lewat migrasi ke tempat yang masih kelemahan jumlah penduduk.
Transportasi dan Aksesibilitas
Seiring dengan majunya suatu kawasan, kian banyak pula moda transportasi yang tersedia di daerah tersebut
Kualitas infrastruktur penunjang transportasi pada sebuah daerah juga sangat mensugesti teladan acara yang terjadi pada kawasan tersebut. Seperti yang kita pahami pada teori titik sentral, teori lokasi industri weber, serta teori struktur kota, kian mudah diakses sebuah kawasan, maka semakin berharga tempat tersebut.
Sebagai geografer, kita mesti bisa mengenali dan mengetahui efek dari aksesibilitas terhadap kegiatan yang terjadi. Bisa saja ada acara yang tidak tergantung aksesibilitas, mirip orang-orang yang bekerja dari rumah, atau footloose industry. Namun, banyak juga aktivitas yang sangat dipengaruhi oleh aksesibilitas.
Contoh kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh kemudahan mencapai lokasi tersebut adalah pariwisata. Seindah apapun lokasinya, kalau tidak terdapat akomodasi penunjang dalam bentuk transportasi, maka tidak akan ada yang bisa mencapai destinasi rekreasi tersebut. Dampaknya adalah industri pariwisata yang tidak meningkat , meski sudah disuntik dana investasi yang tak sedikit.
Permukiman
Aspek permukiman membahas perihal lokasi dimana orang-orang menentukan untuk menetap dan membangun rumah serta sentra acara mereka dalam suatu wilayah
Wilayah dimana seseorang membangun rumahnya pastinya mempengaruhi contoh aktivitas yang terjadi pada lokasi tersebut. Permukiman yang dibangun sebagai perkotaan tentu saja memiliki lingkup kegiatan yang jauh berlawanan daripada pedesaan.
Oleh alasannya adalah itu, ada teori struktur kota yang menjelaskan perbedaan acara dari pusat kota hingga perbatasan dan karenanya pedesaan. Seorang geografer sosial yang baik mesti memahami teori ini supaya bisa menjelaskan perbedaan aktivitas secara spasial.
Contoh dari perbedaan permukiman menghasilkan perbedaan aktivitas yaitu industri. Jarang sekali kita mendapatkan pabrik yang terletak di pedesaan, niscaya pabrik-pabrik ditaruh di tempat perkotaan, atau sekitar perkotaan. Hal ini terjadi alasannya adanya aglomerasi dimana pada daerah perkotaan, terdapat lebih banyak modal serta pekerja, dan aksesibilitasnya juga lebih baik.
Kesimpulan
Ternyata, dua aspek geografi adalah geografi fisik dan geografi sosial memiliki lingkup keilmuan yang sungguh luas. Kedua faktor ini juga saling berkomplementer, sehingga, dikala kita ingin melakukan penelitian, harus memakai dua-duanya. Meskipun, tidak salah juga dikala kita ingin berfokus pada salah satu aspek saja.
Selain itu, selaku geografer yang baik, kita harus mempelajari dan mengetahui terlebih dahulu dasar-dasar geografi ini, sebelum nantinya beranjak ke bahan yang lebih berat. Oleh karena itu, jangan pernah letih membaca sobat-sahabat, karena membaca adalah jendela dunia.
Konsep dasar geografi yakni adonan 10 rancangan yang bertujuan untuk menjelaskan hal-hal yang terjadi di bumi dari sudut pandang geografis. Konsep ini menjadi landasan bagi pembelajaran dan sarana analisis bagi para praktisi geografi, baik di laboratorium maupun di lapangan.
Ilmu geografi sendiri ialah cabang ilmu wawasan yang membahas tentang lokasi serta dampaknya pada kegiatan-aktivitas yang ada, baik itu yang dijalankan oleh manusia, maupun oleh alam.
Secara lazim, aspek geografi dibedakan menjadi dua, yaitu aspek fisik dan faktor sosial. Aspek fisik banyak membahas mengenai makhluk hidup, lingkungan dan kawasan. Sementara faktor sosial mencakup fenomena di bumi yang berkaitan dengan kehidupan manusia mirip ekonomi dan pergerakan penduduk.
Berikut ini yaitu 10 konsep geografi yang acapkali dijadikan alat untuk menganalisa, dari sudut pandang geografi, fenomena yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari.
Daftar Isi
Konsep Lokasi
Konsep lokasi membahas mengenai letak dari obyek tersebut kepada sebuah titik rujukan
Lokasi atau letak yaitu posisi spasial suatu obyek di permukaan bumi. Secara umum, lokasi terbagi menjadi dua, adalah lokasi absolut dan lokasi relatif. Kedua jenis lokasi ini mempunyai obyek rujukan yang berlainan dan berkhasiat evaluasi yang berbeda pula.
Lokasi Absolut
Lokasi sewenang-wenang yakni letak suatu kawasan dilihat dari lintang dan bujur lokasi tersebut. Lokasi diktatorial bersifat statis dan tidak dapat diubah, karena obyek referensinya, ialah lintang dan bujur, juga tidak berganti. Perbedaan lokasi berdasargan lintang dan bujur menciptakan perbedaan iklim (garis lintang) dan perbedaan waktu (garis bujur).
Contoh lokasi absolut yaitu letak astronomis Indonesia yang terletak antara 6 derajat lintang utara hingga 11 derajat lintang selatan serta 95 derajat bujur timur sampai 141 bujur timur (6°LU-11°LS, dan 95°BT-141°BT).
Lokasi Relatif
Berbeda dengan lokasi sewenang-wenang, lokasi relatif mampu berganti-ubah sebab obyek referensinya ialah obyek lain yang ada di dekat obyek yang akan diteliti. Konsep lokasi relatif sungguh penting sebab dalam geografi, kita mengenal aturan Tobler yang menyatakan bahwa sebuah obyek niscaya mempunyai dampak pada obyek disekitarnya.
Contoh lokasi relatif yakni saat kita menerangkan lokasi rumah sobat kita. Kita lazimnya memakai ungkapan, lurus terus, kemudian belok kanan di per-empatan, nanti ada gapura masuk ke situ aja, rumahnya di sebelah masjid.
Semua kode yang kita berikan sungguh tergantung dengan obyek lain, per-empatan, gapura, masjid. Ketika obyek-obyek tersebut sudah tidak ada, maka akan sangat sukar untuk memperoleh rumah sahabat kita tadi. Ini ialah salah satu kelemahan lokasi relatif.
Contoh lainnya ialah lokasi geografis negara Indonesia yang terletak di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, serta Benua Asia dan Benua Australia.
Konsep Jarak
Konsep jarak membahas tentang ruang yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah objek
Konsep jarak yaitu konsep yang menjelaskan ruang yang harus ditempuh atau usaha yang mesti diberikan untuk meraih sebuah lokasi tertentu. Sama seperti lokasi, secara lazim terdapat dua jenis jarak ialah jarak diktatorial dan jarak relatif.
Jarak Absolut
Jarak diktatorial adalah jarak antar lokasi yang dinotasikan dalam satuan panjang, mirip meter, kilometer, atau mil. Konsep jarak diktatorial bersifat tetap dan tidak mampu diubah-ubah, sama seperti lokasi absolut.
Contoh dari penerapan jarak otoriter ialah dikala kita ingin menyatakan jarak antar kota, contohnya jarak antara Jakartadan Bandung itu sekitar 300 km lho, atau nanti kita bermalam di rumah Tono saja, jaraknya akrab dengan sekolah, cuma 1 km.
Jarak Relatif
Berbeda dengan jarak diktatorial, jarak relatif tidak diukur menurut satuan panjang, tetapi diukur berdasarkan satuan waktu. Jarak relatif menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan perjalanan dari satu daerah ke kawasan lainnya.
Contoh dari penerapan jarak relatif adalah Jakarta ke Surabaya membutuhkan waktu 15 jam jika memakai kereta, namun cuma 3 jam jika memakai pesawatatau Jangan di rumah Tono ah nginepnya, itu di depan rumahnya macet, ke sekolah saja mampu 20 menit sendiri.
Konsep Keterjangkauan
Konsep keterjangkauan membicarakan mengenai seberapa gampang suatu lokasi dapat diakses. Contoh pembangunan yang mementingkan keterjangkauan ialah Transit Oriented Development
Konsep keterjangkauan mencakup seberapa gampang sebuah lokasi dapat diakses dari lokasi yang lain. Dalam kata lain, keterjangkauan yakni hasil sintesa dari rancangan lokasi dan desain jarak dikala diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam memperhatikan keterjangkauan, faktor yang umumnya diteliti ialah ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang transportasi pada daerah tersebut. Selain itu, keterjangkauan juga meninjau faktor fisik mirip topografi dan bentang alam yang ada pada daerah tersebut.
Contoh penerapan rancangan keterjangkauan ialah Labuan Bajo yang tadinya susah untuk diakses padahal ialah destinasi wisata global. Sekarang, Labuan Bajo sudah punya bandara sendiri yaitu bandara Komodo (LBJ), serta jalan-jalan konektor maupun dalam kota yang diaspal dengan baik. Selain itu, kota-kota di pulau Flores juga kini dibangun pelabuhan untuk menunjang aksesibilitas melalui maritim yang lebih tinggi.
Contoh yang lain ialah pulau Madura yang telah untuk dijangkau alasannya mesti memakai kapal. Namun, sehabis dibangun Jembatan Suramadu, kita bisa menuju ke Madura dengan mobil dan transportasi darat lain via jembatan, sehingga mempercepat perjalanan.
Konsep Pola
Rumah-rumah di Greenland dibangun sesuai dengan eksistensi permukaan non-es, sehingga membuat teladan yang unik
Konsep contoh menjajal mengartikan struktur, bentuk, serta persebaran acara baik alami maupun sosial yang terjadi di permukaan bumi. Pola juga dapat diartikan selaku tatanan geometris yang beraturan dari sebuah obyek atau kegiatan yang ada.
Dalam mengecek acuan, umumnya tiap obyek memiliki pola pembangunan yang berlawanan-beda. Kita mampu mengevaluasi pola pembangunan tersebut untuk menerima citra tentang aktivitas yang terjadi dan keadaan geografis sekitarnya.
Contoh penerapan konsep teladan ialah pada pembangunan permukiman yang mengikuti jalan, seperti pengembangan ribbon development. Contoh yang lain yakni pola pembangunan garis pertahanan yang selalu mengikuti batasan nasional ataupun batas geografis, seperti garis maginot di Prancis dan tembok china di China.
Konsep Geomorfologi
Daerah sekitar gunung Solfatar di Italia dipenuhi kegiatan vulkanisme serta welirang sehingga tidak kondusif untuk ditinggali. Ini yakni acuan desain geomorfologi dalam memeriksa wilayah
Konsep geomorfologi membahas perihal bentuk permukaan bumi yang ada pada sebuah lokasi. Bentuk permukaan bumi mirip pegunungan, gunung berapi, lembah, danau, sungai, dataran tinggi, dan dataran rendah ialah faktor-aspek yang mampu mensugesti kegiatan insan secara spasial. Oleh sebab itu, mesti kita teliti dengan seksama.
Konsep geomorfologi umumnya digukanan dalam melakukan analisa kawasan secara biasa mirip Kota Bandung terletak di dataran tinggiatau Kota Palembang terletak di dataran rendah pinggir pantai.
Namun, konsep geomorfologi juga dapat dipakai secara lebih rinci pada sebuah daerah yang kecil. Contohnya yaitu tempat Bukit Duri di Jakarta riskan banjir alasannya bersahabat dengan sungai atau tempat delta sungai nil sungguh subur karena berada di kawasan floodplain yang berisikan tanah alluvial.
Konsep Aglomerasi
Nelayan seperti gambar diatas biasanya beraglomerasi kedalam satu kampung khusus adalah kampung nelayan dimana perekonomiannya didasari atas penangkapan dan pengolahan ikan
Konsep aglomerasi intinya membicarakan keduanya serta menganalisa, mengapa fenomena tersebut terjadi pada sebuah lokasi dan tidak terjadi (atau justru terjadi juga) pada lokasi lain.
Contoh evaluasi dengan memakai konsep aglomerasi adalah pemusatan aktivitas ekonomi pada kawasan ekonomi khusus dan kawasan industry yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta. Contoh lainnya ialah urbanisasi yang berbentukpergerakan manusia untuk tinggal secara memusat di tempat perkotaan.
Konsep Nilai Kegunaan
Gunung-gunung dengan pemandangan Indah lebih cocok dijadikan tempat wisata ketimbang penambangan sumber daya mineral
Dalam mengecek aktivitas atau obyek secara geografis, kita harus mengetahui nilai guna atau kesempatandari suatu lokasi. Dengan mengenali nilai guna terbaik dari sebuah kawasan, kita dapat melaksanakan proses perencanaan yang lebih baik dan terorganisir untuk mendesain daerah tersebut.
Namun, tentu saja nilai guna suatu lokasi mampu berubah ubah, tergantung kemampuan serta kemauan orang untuk memanfaatkan lokasi tersebut. Selain itu, nilai guna juga sungguh bergantung pada ketersediaan teknologi dan ketersediaan modal untuk melaksanakan pengembangan di kawasan tersebut.
Contoh pengaplikasian nilai kegunaan adalah tempat pantai yang lebih cocok selaku daerah wisata dan perdagangan dibandingkan dengan tempat bertani. Atau, daerah dataran tinggi yang lebih cocok dipakai selaku kawasan berkebun dan berladang daripada budidaya ikan tangkap.
Konsep interaksi dan interdependensi menyoroti bagaimana sebuah daerah atau kegiatan berinteraksi dan saling bergantung dengan kawasan/kegiatan yang lain. Seperti yang telah kita pelajari pada hukum Tobler, setiap obyek memiliki imbas pada obyek lain yang ada di sekitarnya dan dipengaruhi pula oleh obyek disekitarnya.
Contoh interaksi dan interdependensi yakni pedesaan dengan area perkotaan. Pedesaan menghasilkan materi makanan yang mau didistribusikan ke perkotaan, sedangkan perkotaan menghasilkan barang manufaktur yang dijual ke desa-desa.
Contoh lainnya adalah interaksi dan interdependensi antar wilayah mirip Jakarta dengan Cikarang dan Bekasi. Jakarta memiliki basis pelanggan yang banyak dengan masyarakatberjumlah hingga 9 juta orang, disamping itu Jakarta juga mempunyai pelabuhan bertaraf internasional adalah Tanjung Priok.
Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Cikarang dan Bekasi yang menspesialisasikan diri mereka sebagai kota industri untuk mensuplai kebutuhan Jakarta dan keperluan ekspor lewat pelabuhan Tanjung Priok.
Konsep Diferensiasi Areal
Di Swiss, dataran rendah di llereng gunung cocok untuk dijadikan permukiman, sedangkan dataran tingginya lebih cocok dijadikan area rekreasi ski ataupun hiking
Konsep diferensiasi area bermaksud untuk memperlihatkan dan menerangkan mengapa terdapat perbedaan fenomena baik fisik maupun sosial antar daerah. Diferensiasi areal membandingkan daerah tersebut untuk menemukan apa yang sesungguhnya menjadi pembeda.
Contoh diferensiasi areal yakni pada aspek mata pencaharian. Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir biasanya memiliki mata pencaharian selaku nelayan atau kru kapal, sedangkan masyarakat dataran tinggi lazimnya berprofesi selaku petani.
Contoh lain dari diferensiasi areal ialah masyarakat desa dan penduduk kota. Pada biasanya, masyarakat desa mempunyai mata pencaharian agraris mirip petani ataupun peternak, sedangkan penduduk kota telah ke arah industri manufaktur dan penyediaan jasa.
Masih penduduk desa dan kota, pada umumnya masyarakat desa mempunyai angka kelahiran yang jauh lebih tinggi daripada masyarakat kota. Selain karena faktor pengetahuan, biaya hidup dan ruang yang tersedia di desa juga masih sungguh besar, sehingga acara keluarga bermaksud tidak dirasa perlu.
Konsep Keterkaitan Ruang
Eksploitasi hutan berlebihan seperti penebangan liar pada kawasan hulu sungai dapat menyebabkan banjir di daerah hilir sungai
Konsep keterkaitan ruang menjajal menerangkan bahwa sesuatu yang terjadi di daerah tertentu mampu saja disebabkan oleh kegiatan di wilayah lain. Mirip dengan interaksi dan interdependensi, namun keterkaitan ruang lazimnya bersifat alasannya adalah-akibat, bukan saling efek.
Konsep ini ialah perwujudan dari eksternalitas yang niscaya ditimbulkan oleh sebuah kegiatan. Tidak mungkin ada aktivitas yang sama sekali tidak mempunyai eksternalitas, oleh alasannya adalah itu, keterkaitan keruangan ini sangat perlu diteliti dalam menjelaskan aktivitas secara spasial.
Contoh desain keterkaitan keruangan adalah saat kita menjelaskan mengenai banjir yang terjadi di Jakarta. Kita tidak mampu serta menyalahkan pemerintah provinsi DKI Jakarta yang tidak becus dalam mengorganisir tata air provinsi.
Kita juga harus melihat, apakah Kota Bogor dan kawasan hulu sungai lainnya telah benar dalam mengorganisir bantaran sungainya? Bisa jadi, banjir di Jakarta disebabkan oleh deforestasi akut di tempat Bogor dan sekitarnya.
Contoh lain desain keterkaitan keruangan yakni dikala kita meninjau fenomena polusi udara dan kabut asap yang terjadi di Malaysia dan Singapura. Belum tentu penyebabnya yaitu pabrik dan kendaraan yang tidak lolos uji emisi. Mungkin saja penyebabnya ialah kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sulawesi pada musim kemarau.
Kesimpulan
Dalam memeriksa sebuah fenomena secara geografis, kita mesti senantiasa merujuk terhadap 10 konsep geografi yang ada diatas. Selain mempermudah kita dalam menstrukturkan kajian yang mau dibuat, ke 10 rancangan tersebut juga akan menolong kita dalam mengaitkan antara aspek spasial dengan aspasial.